Jumat, 02 Oktober 2026
Hot

Memahami Akar Permasalahan Di Balik Santri yang Sulit Diatur

Meneliti alasan di balik santri yang sulit diatur di pesantren, mulai dari konflik keluarga, luka psikologis, hingga pentingnya pendekatan bijak pendidik.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Hampir di setiap pondok pesantren pasti terdapat santri yang sulit diatur. Mulai dari terlambat ke masjid, tidak mengikuti kegiatan dengan tertib, membantah pengurus, hingga melakukan pelanggaran secara berulang. Santri-santri seperti ini sering kali diberi label sebagai santri “nakal”, “bandel”, atau “tidak memiliki adab”.

Mereka biasanya terlihat tidak takut dan tidak peduli terhadap berbagai hukuman yang akan diterima setelah melakukan pelanggaran. Sikap tersebut sering membuat pengurus merasa kesal. Bahkan, tidak sedikit pengurus yang akhirnya merasa kewalahan menghadapi perilaku mereka.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya lebih jauh, apakah semua pelanggaran tersebut benar-benar lahir hanya karena kenakalan mereka?

Mungkin di balik perilaku yang terlihat mengganggu, terdapat luka yang tidak terlihat. Di balik sikap tidak peduli, bisa jadi ada hati yang sedang memberontak. Sebab, tidak sedikit santri yang datang ke pesantren dengan membawa beban konflik keluarga yang telah lama mereka pendam.

Article ad in the middle of article

Ada yang tumbuh dalam suasana penuh pertengkaran orang tua. Ada yang tidak pernah tinggal bersama orang tua. Ada pula yang kurang mendapatkan perhatian atau hidup dalam suasana rumah yang jauh dari rasa nyaman. Mereka datang ke pesantren bukan hanya membawa pakaian dan kitab, tetapi juga membawa kekecewaan, kemarahan, serta kerinduan terhadap kasih sayang yang mungkin tidak mereka dapatkan di rumah.

Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Kita sering mendengar ungkapan bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Cara berkomunikasi, sikap, dan perilaku anak banyak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan rasakan dalam lingkungan keluarga.

Ketika fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik, dampaknya tidak berhenti di rumah saja. Luka yang diperoleh dari lingkungan keluarga sering kali terbawa ke sekolah, pergaulan, bahkan ke pesantren. Sebagian anak mungkin mampu mengendalikan emosinya, tetapi sebagian lainnya mengalami kesulitan untuk mengelola perasaan tersebut.

Sayangnya, sebagian lingkungan pendidikan masih melihat pelanggaran hanya dari permukaannya. Ketika seorang santri melakukan kesalahan, langkah pertama yang sering diambil adalah memberikan hukuman dan penilaian negatif. Padahal, tidak semua anak yang bermasalah adalah anak yang sengaja ingin membuat masalah. Bisa jadi mereka hanya belum menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkan luka yang dirasakan.

Hal inilah yang perlu menjadi perhatian para pengurus dan pendidik pesantren. Tugas pesantren bukan hanya menegakkan kedisiplinan dan menerapkan aturan yang sama kepada semua santri, tetapi juga memahami manusia yang sedang dibimbing dan dididik.

Sebelum memberikan label atau menjatuhkan penilaian, penting untuk memahami latar belakang keluarga santri, kondisi psikologisnya, serta perjalanan hidup yang membentuk dirinya saat ini. Bukan berarti setiap pelanggaran harus dibiarkan, karena aturan tetap harus ditegakkan dan kesalahan tetap perlu diperbaiki. Namun, pendekatan yang berangkat dari pemahaman akan jauh lebih efektif dibandingkan penghakiman yang terburu-buru.

Anak yang merasa dipahami cenderung lebih mudah menerima nasihat dibandingkan anak yang merasa terus-menerus disalahkan.

Tidak sedikit penghakiman yang dilakukan berulang kali justru membuat seorang santri semakin memberontak. Ia merasa tidak memiliki tempat yang benar-benar menerima dirinya. Ketika di rumah ia tidak mendapatkan kehangatan, lalu di pesantren terus-menerus mendapatkan teguran dan amarah atas perilakunya, pelanggaran demi pelanggaran dapat menjadi cara yang keliru untuk melampiaskan kekecewaan yang tidak pernah tersampaikan.

Kita perlu menyadari bahwa anak-anak seperti ini bukanlah musuh pesantren. Mereka bukan anak yang gagal. Mereka hanya sedang berjuang menghadapi persoalan yang mungkin terlalu berat untuk usia mereka.

Namun, bukan berarti kita harus sepenuhnya menyalahkan orang tua. Persoalannya terletak pada cara mereka menyalurkan rasa pedih, kecewa, atau marah melalui perilaku yang tidak tepat. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bimbingan, bukan hanya nasihat yang berlalu begitu saja. Mereka membutuhkan pemahaman, bukan sekadar hukuman dan cap negatif.

Di sinilah letak peran besar pesantren. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga ruang untuk membangun kembali harapan dan kepercayaan diri seorang anak. Pesantren seharusnya menjadi tempat yang membuat santri merasa diterima, didengar, dan dibimbing menuju perubahan yang lebih baik.

Jangan sampai seorang santri merasa dirinya hanya menjadi “sampah pesantren” yang harus disembunyikan dari orang lain. Perasaan tersebut justru dapat membuat mereka semakin kehilangan nilai diri dan semakin sulit diarahkan.

Bagi sebagian anak, pesantren mungkin menjadi tempat terakhir yang mereka harapkan sebagai rumah yang penuh kasih sayang. Karena itu, jangan sampai pesantren justru menjadi tempat yang mengulang pengalaman buruk yang selama ini mereka rasakan di rumah.

—

Rohadatul Aisy
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Article ad after last paragraph