Agung Edy Suyono Penulis | Ridwan Habibie Editor
HARIANEXPRESS, DEPOK — Karang Taruna RW 08 Perumahan Taman Serua menggelar Pelatihan Jurnalistik, Videografi, dan Literasi Sastra untuk memperkuat kemampuan pemuda dalam mengolah informasi dan menghasilkan karya kreatif di era digital, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Al Zastrouw Library, Perumahan Taman Serua, Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami pentingnya literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan komunikasi melalui tulisan maupun media visual.
Ketua RW 08 Perumahan Taman Serua, Dr. (C) Ratno Suprapto, S.Sn., M.Ds., bersama panitia dan jajaran pengurus RW-08 turut mendukung kegiatan penguatan literasi pemuda tersebut. Lurah Serua, Ikhwanudin, S.H., juga menjadi bagian dari unsur pemerintahan yang hadir dalam rangkaian kegiatan.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program kepemudaan Karang Taruna RW 08 Taman Serua yang dilaksanakan melalui dukungan program Musrenbang Dana Berbasis RW Pemerintah Kota Depok. Kegiatan tersebut menghadirkan materi jurnalistik, videografi, dan sastra dengan melibatkan praktisi serta pegiat literasi, yakni Mahwi Air Tawar, Mukhlisin, Arga Prakoso, dan Zaky Mubarak (Angin Kamajaya).
Ketua RW 08 Perumahan Taman Serua, Dr. (C) Ratno Suprapto, S.Sn., M.Ds., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari program pengembangan wilayah berbasis RW yang salah satu fokusnya diarahkan pada penguatan kapasitas generasi muda melalui kegiatan Karang Taruna.
Menurut Ratno, setiap RW memperoleh dukungan dana pengembangan sebesar Rp300 juta, dengan salah satu pagu mandatori yang diperuntukkan bagi kegiatan kepemudaan sebesar 10 juta dari total anggaran 300 juta tersebut.
“Untuk RW 08 Perumahan Taman Serua, kami mengambil tema workshop yang mencakup jurnalistik, videografi, dan sastra. Ketiga aspek ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan perkembangan sosial, teknologi, serta pola komunikasi anak muda saat ini,” ujarnya.
Ia mengatakan, perkembangan media sosial saat ini membutuhkan kemampuan literasi yang lebih baik agar pemuda tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara mengelola informasi secara bertanggung jawab.
“Harapannya, anak-anak muda di Karang Taruna RW 08 Taman Serua dapat menambah wawasan dalam mengelola dan menggunakan media sosial secara bijak. Ini langkah untuk meningkatkan literasi digital agar mereka terhindar dari dampak negatif,” kata Ratno.
Sesi awal pelatihan menghadirkan Mahwi Air Tawar dengan materi literasi sastra. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kemampuan bercerita bagi generasi muda di tengah perubahan pola komunikasi yang semakin didominasi oleh konsumsi informasi singkat melalui media digital.
Menurut Mahwi, budaya digital yang membuat masyarakat semakin terbiasa melakukan aktivitas scrolling perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir, berdialog, dan menyampaikan gagasan secara mendalam.
“Bercerita itu sangat penting bagi generasi muda, khususnya yang belakangan ini lebih cenderung berfokus pada scrolling. Padahal, untuk kehidupan komunal, kita sangat membutuhkan cara bertutur dan berbincang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan jurnalistik juga memiliki hubungan erat dengan literasi karena menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan melalui berbagai bentuk karya.
“Salah satu tujuan dari jurnalistik ini adalah bagaimana teman-teman menyampaikan gagasan, baik melalui berita, opini, maupun karya sastra,” kata Mahwi.
Mahwi berharap peserta mampu memiliki sikap kritis dalam menerima berbagai informasi yang berkembang di ruang digital.
“Harapannya adalah supaya teman-teman lebih kritis terhadap berita yang ada dan kemudian lebih mendalami gagasan apa yang ingin disampaikan, tidak menjadi instan,” tambahnya.
Setelah sesi literasi sastra, peserta mengikuti materi Dasar-Dasar Jurnalistik dan Praktik Menulis bersama Mukhlisin. Materi tersebut membahas teknik dasar penulisan berita, proses verifikasi informasi, serta pentingnya memahami fakta sebelum menyampaikan informasi kepada publik.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan workshop videografi bersama Arga Prakoso dan Zaky Mubarak (Angin Kamajaya). Peserta memperoleh pemahaman mengenai teknik dasar produksi video, mulai dari pengambilan gambar, penyusunan visual, hingga konsep jurnalisme warga.
Melalui rangkaian materi tersebut, peserta tidak hanya diarahkan untuk memahami teori, tetapi juga menghasilkan karya melalui praktik langsung. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemuda agar berperan sebagai produsen informasi yang kreatif dan bertanggung jawab.
Salah satu peserta, Kayla Nareswari Maysa Abidin, mahasiswa baru Program Studi Penerbitan di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, menilai pelatihan tersebut memberikan pengalaman yang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya.
“Tentunya pelatihan ini sangat baik dan bermanfaat sekali, apalagi kebetulan saya dari Program Studi Penerbitan sehingga materi yang disampaikan terasa sangat sesuai. Manfaatnya besar sekali, latihan kepenulisan bersama Kang Muklis sangat menarik dan materi pembukaan sastranya sangat berarti untuk bahan belajar,” ungkap Kayla.
Ia juga mengapresiasi suasana kegiatan yang dinilainya positif dan mampu mendorong peserta untuk aktif mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.
“Kegiatan seperti ini sangat positif. Terlihat teman-teman peserta lain juga sangat enjoy, menikmati acara, dan suasananya benar-benar seru,” ujarnya.
Kayla mengatakan ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik telah muncul sejak awal menentukan pilihan pendidikan. Meski akhirnya menempuh bidang penerbitan, ia melihat keduanya memiliki keterkaitan yang kuat.
“Memang dari awal saya ingin masuk ke jurusan Jurnalistik, tetapi kebetulan diterima di Penerbitan Buku. Sebenarnya tidak jauh berbeda karena sama-sama mempelajari hal tersebut,” jelasnya.
Pelatihan Jurnalistik, Videografi, dan Literasi Sastra Pemuda RW 08 menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kreatif berbasis komunitas. Melalui penguatan kemampuan menulis, berpikir kritis, serta produksi konten visual, pemuda diarahkan untuk mampu menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai budaya dan identitas lokal.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ruang komunitas dapat menjadi tempat strategis dalam membangun kapasitas generasi muda. Tidak hanya sebagai tempat berkegiatan sosial, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan, kreativitas, dan karya yang memiliki manfaat bagi masyarakat luas.











