Minggu, 25 Oktober 2026
Hot

Merawat Tradisi, Menjaga Kebhinekaan: Puncak Festival Dunia Santri 2026 Hadirkan Harmoni Seni dan Puisi Lintas Iman di UI

Puncak Festival Dunia Santri 2026 di Universitas Indonesia menampilkan seminar, pertunjukan seni, hingga pembacaan puisi lintas iman untuk merawat kebinekaan.

Article ad before first paragraph

Achmad Fauzan Penulis | Ridwan Habibie Editor

HARIANEXPRESS, DEPOK – Puncak Festival Dunia Santri 2026 yang diselenggarakan Jejaring Duniasantri (JDS) berlangsung di Gedung Makara Art Center, Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/10/2026).

Mengusung semangat pelestarian tradisi, penguatan literasi, dan kebinekaan, festival ini menjadi ruang perjumpaan intelektual, seni, dan budaya yang memperlihatkan kontribusi pesantren dalam merawat keberagaman Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu tersebut memadukan dua agenda utama, yakni Seminar Analisis Korpus 5.000 Tulisan Santri dan Pertunjukan Seni Santri. Perhelatan ini sekaligus menandai puncak rangkaian Festival Dunia Santri 2026 yang telah berlangsung sejak April melalui berbagai kegiatan literasi, diskusi, dan kebudayaan di sejumlah kota, mulai dari Depok, Serang, Yogyakarta, hingga Jakarta.

Article ad in the middle of article

Seminar Analisis Korpus 5.000 Tulisan Santri menjadi salah satu bagian penting dalam festival tersebut. Forum ini mengangkat kekayaan pemikiran dan gagasan santri yang terdokumentasi melalui ribuan tulisan di portal duniasantri.co. Beberapa pengurus Duniasantri yang hadir adalah M. Halim Pohan, Muklisin dan Mahwi. Dalam daftar narasumber yang diumumkan panitia, tercantum sejumlah tokoh nasional dan cendekiawan terkemuka, di antaranya Dr. KH Said Aqil Siradj, Fachry Ali, MA, Dr. KH Musta’in Syafi’i, Jamal D. Rahman, dan Dr. Novi Diah Haryanti.

Melalui kajian terhadap karya-karya tersebut, festival ini menempatkan tradisi menulis sebagai salah satu bentuk kontribusi intelektual kalangan pesantren. Ribuan tulisan santri tidak hanya menjadi dokumentasi pemikiran, tetapi juga mencerminkan keterlibatan mereka dalam merespons persoalan keagamaan, sosial, kebudayaan, dan kebangsaan.

Tidak hanya menghadirkan diskursus intelektual, festival ini juga memadukan berbagai ekspresi seni tradisional dan kontemporer. Rangkaian pertunjukan seni menghadirkan kekayaan budaya Nusantara melalui lantunan Hadrah Banjari, Wayang Beber Metropolitan oleh Ki Samuel Santoso, serta musikalisasi puisi dari kelompok musik Empang.

Nuansa spiritualitas dan nasionalisme turut mewarnai program kesenian melalui puitisasi Al-Qur’an oleh Syibran Malasi, pembacaan puisi oleh Joze Rizal Manua, Orasi Santri oleh Jamal D. Rahman, serta Monolog Hubbul Wathon oleh Aryo Srengenge. Perpaduan berbagai ekspresi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara seni, nilai-nilai keagamaan, dan kecintaan kepada tanah air.

Salah satu agenda yang mendapat tempat khusus dalam festival ini adalah Pembacaan Puisi Lintas Iman. Program tersebut mempertemukan semangat keberagaman melalui karya sastra dengan melibatkan nama-nama besar dalam dunia kepenyairan Indonesia, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Noor, Putu Fajar Arcana, Mezra Elizabeth Pellondou, Remmy Novaris, dan Angelina Enny.

Pembacaan puisi lintas iman menjadi simbol penting dari pesan kebinekaan yang diusung festival. Sastra ditempatkan sebagai bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan keyakinan, latar belakang budaya, dan pandangan hidup. Melalui pendekatan seni, nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman memperoleh ruang ekspresi yang lebih luas.

Festival ini juga memberikan perhatian terhadap penguatan literasi dan pendokumentasian sejarah pesantren melalui Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren. Pengumuman pemenang lomba menjadi bagian dari agenda apresiasi terhadap karya para penulis santri. Panitia juga memasukkan peluncuran awal buku antologi Biografi Orang-orang Pesantren, yang menghimpun karya-karya terpilih, ke dalam rangkaian festival.

Program literasi tersebut menjadi langkah penting dalam merawat ingatan kolektif mengenai tokoh-tokoh pesantren yang telah memberikan kontribusi bagi masyarakat. Penulisan biografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan keteladanan, pemikiran, dan pengabdian para tokoh pesantren kepada generasi muda.

Puncak Festival Dunia Santri 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober dan menyambut peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Festival Dunia Santri 2026, Beni Satria, menjelang pelaksanaan kegiatan, festival ini dirancang sebagai ruang perayaan yang terbuka bagi santri, akademisi, pegiat sastra, dan masyarakat umum.

Sebelum puncak festival di Depok, Jejaring Duniasantri juga telah menggelar Temu Sagara Penyair ASEAN di Gedung M. Tabrani, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan para penyair dari sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Timor Leste, dalam dialog sastra dan kebudayaan lintas negara.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan upaya Jejaring Duniasantri untuk memperluas peran pesantren dalam ekosistem literasi dan kebudayaan, baik pada tingkat nasional maupun regional. Pesantren tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya kreativitas, pemikiran kritis, dan kesadaran terhadap pentingnya dialog antarkebudayaan.

Melalui penyelenggaraan Festival Dunia Santri 2026, semangat merawat tradisi dan menjaga kebinekaan kembali memperoleh ruang aktualisasi. Pertemuan antara para santri, intelektual, sastrawan, dan seniman lintas iman menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren memiliki relevansi yang luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Festival ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Melalui literasi, seni, dan dialog kebudayaan, kaum santri terus mengambil bagian dalam memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, serta membangun peradaban bangsa yang inklusif dan berkemajuan.

Article ad after last paragraph